The Education As The Foundation Of Journey Of A Leader


(Pdt. Arnold Tindas, D.Min., D.Th)


A. Pendahuluan
Manusia tercipta sebagai makhluk sosial sehingga senang berkumpul seorang dengan orang lainnya, saling membutuhkan, interdependen dan dengan demikian sulit untuk independen. Hakikat sosial manusia yang demikian ini membutuhkan adanya leader, dan karena itu juga setiap orang memiliki naluri leadership, meskipun tidak terlahir sebagai leader. Naluri leadership ini sering kali membuat seseorang tidak sabar dan segera melompat untuk memegang tampuk kepemimpinan, tanpa menjalani awal pembentukan diri sebagai pemimpin. Seorang leader tidak menjadi leader karena dilahirkan melainkan karena pembentukan melalui perjalanan (journey) yang panjang. Fase-fase permulaan dari journey of a leader adalah pembentukan melalui education. Seseorang memang dapat mengambil jalan pintas untuk menjadi leader, tetapi suatu ketika ia akan mengalami depresi yang berat, karena pada tahap perjalanan tertentu ia menemukan dirinya dalam kehampaan, tidak memiliki kualifikasi yang sepadan dengan kapasitas kepimpinan yang diembannya. Pendidikan perlu sebagai fondasi dalam perjalanan seorang pemimpin.

B. Strengthening the Foundation
Seorang leader yang sejati akan sangat menghargai pendidikan, dan bahkan memandang pendidikan itu sebagai fondasi bagi bangunan kepemimpinannya untuk dapat berdiri tegak dan kokoh. Penulis Kitab Amsal menghargai pendidikan itu jauh melebihi nilai perak dan emas, katanya, “Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan” (Ams. 8:10). Ia juga memandang pendidikan itu sebagai fondasi yang diletakkan pada masa muda untuk kekuatan pada masa tua, katanya, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Ams. 22:6).